Selasa, 27 Mei 2014

Seni Bentuk Kecerdasan anak











Seni memiliki kekuatan besar untuk memepengaruhi emosi dan kecerdasan anak.



Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah Tabiat, Watak atau sifat-sifat kejiwaan, akhlak, budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lainnya. Melalui Karakter, seseorang diajarkan tentang hal yang baik dan buruk (moral). Selain itu karakter juga merupakan sebuah kondisi mental yang membuat seseorang berani, bersemangat, berdisiplin dan sebagainya.
Menurut teori Piaget, perkembangan moral manusia dibagi dalam dua tahap. Pertama disebut heteronomous, yang berkembang pada fase anak-anak. Pada tahap ini, moral ditanamkan oleh orang dewasa yang kemudian menciptakan keyakinan pada anak bahwa aturan moral bersifat tetap.

Salah satu upaya yang banyak dilakukan untuk membentuk karakter sekaligus mendongkrak kecerdasan anak adalah melalui pendidikan seni. Seni sendiri sejatinya memiliki kekuatan yang besar untuk mempengaruhi emosi dan kecerdasan anak. Seni juga dapat menjadi wadah yang sangat nyaman dan mampu memikat  perhatian anak untuk mempelajari apapun. Karena seni berada di wilayah rasa dan estetika, maka pembentukan nilai tersebut pada anak dapat menstimulasi smart feeling (perasaan cerdas). Sehingga mereka akan dapat mengatur emosinya. Anak akan mengetahui waktu dan cara yang tepat dalam mengutarakan emosinya. Karena itu jika pendidikan seni diberikan sejak kecil, diharapkan proses tumbuh kembang anakpun menjadi lebih maksimal.

Berkesian, apapun jenisnya diyakinkan bakal mengasah logika dan kreativitas seorang anak dan kedua hal inilah yang terbukti banyak mendukung kecerdasan lainnya. Menurut psikologi anak dan remaja, Fitriani F syahrul, Msi Psi yang menyoroti sistem pendidikan kita yang umumnya menitikberatkan pada pada perkembangan otak kiri atau kepandaian akademis. Menuturkan , lantaran hanya otak kiri yang dikembangkan, maka anak akan cenderung bersikap kaku dan serius. Hal ini justru bisa membuat si anak menjadi karakter yang rentan terserang stress. "Ketika otak kanan dikembangkan, seni membuat orang menjadi fleksibel karena disitu ada unsur keterlibatan perasaan dan relaksasi. Yang tadinya tegang jadi sedikit santai" terang Fitriani.

Berikut penuturan dari kepala sekolah Elfa Music School (EMS) Depok Ario Seno memaparkan, Selain meningkatkan kecerdasan musikal, EMS juga memacu kecerdasan IQ dan EQ siswanya.Karena dapat memacu kelenjar adrenalin yang dapat menggerakkan hormaon-hormon baik dalam tubuh. Hal senada diungkapkan oleh Baas Cihmo Sueko, Pemilik Sanggar Tari Ayodya Pala yang menerapkan sistem pengajaran bukan bagaiman untuk bisa menari dengan baik dan benar, tetapi di sini mereka diajarkan pendidikan etika dan moral yang kini sudah mulai hilang.

Tidak menampik jika sistem di negeri ini kurang memberi ruang bagi pendidikan seni. Belum semua sekolah menganggap anak yang memiliki potensi di bidang seni adalah anak-anak yang cerdas.dan masih mengandalkan standarisasi akademik.

Namun saat ini sudah ada beberapa sekolah di DEPOK yang materi pengajarannya berangkat dari minat si anak. Jika anak lebih minta pada seni, si anak akan mendapat pelajaran bidang tersebut. Sebaliknya juga, jika lebih menyukai sejarah, ia akan diberikan pelajaran mengenai sejarah lebih banyak.

Kita berharap perkembangan anak akan lebih seimbang kedepannya, dengan mengembangkan otak kiri dan kanan secara seimbang pula. Jika mereka dapat dikembangkan dengan baik dan seimbang, maka seorang anak akan menyikapi segala sesuatunya dengan lebih berimbang. Ia bisa serius sekaligus santai, dan bisa melihat sesuatu dengan sudut pandang orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar